FIP – Riuh tepuk tangan menggema di ruang wisuda Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama). Di atas podium, seorang pemuda berdiri tegap namun suaranya bergetar menahan haru. Ia adalah Ahmad Zahidin Al Faruq, lulusan terbaik dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unikama.
Hari itu, Faruq tidak hanya merayakan pencapaian akademisnya yang luar biasa dengan IPK 3,97. Lebih dari itu, ia merayakan sebuah kemenangan atas titik terendah dalam hidupnya, sebuah inovasi teknologi lintas disiplin, dan sebuah janji tak tertulis kepada almarhumah ibundanya.
Di balik predikat wisudawan terbaik dan kesuksesannya memikat investor nasional lewat startup edukasi, Faruq menyimpan cerita perjuangan yang menyentuh hati. Saat menyampaikan sambutan mewakili seluruh wisudawan, ia meminta ayah dan kakaknya untuk berdiri, memberikan penghormatan tertinggi kepada keluarga yang telah mati-matian menyekolahkannya.
Namun, momen paling mengharukan adalah ketika Faruq mempersembahkan gelar tersebut untuk almarhumah ibunya. Di depan jajaran senat dan ribuan hadirin, ia mengenang pesan terakhir sang ibu yang menjadi bahan bakarnya untuk bertahan hingga hari ini.
“Terima kasih Bu telah meninggalkan kata ‘nggak apa-apa’ sebagai kata terakhir yang ditinggalkan. Satu kata berjuta makna, satu kata yang menjadikan alasan saya bisa berdiri di sini dan masih bernafas hingga sekarang,” ucap Faruq dengan penuh emosional.
Bagi Faruq, ujian terberat seorang mahasiswa tingkat akhir bukan terletak pada lembaran skripsi, melainkan pada ujian kehidupan pribadi. Memasuki semester 7, ia sempat berada di titik nadir. Namun, meminjam kutipan dari pemikir dunia Dostoevsky, “The darker the night, the brighter the stars”—semakin gelap malam, maka bintang akan bersinar semakin terang. Di masa tersulit itulah, versi terbaik dari diri Faruq justru bangkit.
Mendobrak Stigma Media Pembelajaran SD lewat Game RPG
Bangkitnya Faruq dari masa-masa sulit sejalan dengan keberaniannya di dunia akademik. Mahasiswa PGSD biasanya diidentikkan dengan pembuatan media pembelajaran konvensional seperti alat peraga fisik atau buku cerita. Namun sejak semester 3, Faruq menolak berada di “zona aman”.
Berangkat dari hobinya bermain game Pokemon sejak SMP, ia tertantang melakukan lompatan besar: mengemas materi pelajaran sekolah dasar ke dalam petualangan Role-Playing Game (RPG).
Faruq sadar ia tidak bisa berjalan sendiri. Ia melangkah keluar dari jurusannya, merangkul mahasiswa dari Program Studi Sistem Informasi (SI) Unikama, dan mulai mengulik logika serta algoritma pemrograman. Didampingi oleh dosen-dosen e-business prodi SI, Faruq belajar secara otodidak selama satu tahun hingga lahirlah RPG Caria Quest.
Game edukasi interaktif ini merangkum mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Jawa, hingga Bahasa Jepang untuk anak SD. Kehadiran karya ini sekaligus mematahkan stigma negatif orang tua terhadap game; terbukti bahwa game bisa menjadi sarana belajar yang sangat efektif.

Dari Bangku Kuliah Menuju Industri Nyata
Inovasi Faruq bersama timnya tidak mandeg sebagai tugas kuliah. Pada tahun 2023, proyek ini lolos Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kemendikbudristek. Setahun kemudian, mereka sukses menembus Top 30 dan melakukan pitching langsung di hadapan investor nasional pada ajang Akademi Wirausaha Mahasiswa Merdeka (AWMM) di Universitas Brawijaya, serta menyabet penghargaan Best Video Demo Day.
Keberhasilan ini tidak diraih dengan cara mengorbankan nilai akademik. Faruq menerapkan strategi “Kerja Pintar”. Sebagai mahasiswa, ia dikenal sangat disiplin. Jika dosen memberi tenggat waktu hari Senin, Faruq sudah merampungkannya di hari Rabu minggu sebelumnya. Manajemen waktu yang efektif inilah yang membuatnya tetap memiliki waktu luang di tengah kesibukan riset teknologi.

Modal yang Lebih Berharga dari Selembar Ijazah
Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian Faruq. Menurutnya, Faruq adalah bukti nyata bahwa ekosistem kampus Unikama berhasil memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengasah potensi unik mereka secara terarah hingga melahirkan inovasi lintas disiplin ilmu yang diakui nasional.
Bagi Faruq sendiri, ruang dan kesempatan berinovasi yang diberikan oleh Unikama jauh lebih berharga daripada sekadar selembar ijazah. Di saat banyak lulusan baru baru mau mencari kerja, Faruq dan timnya justru sudah siap tancap gas membesarkan startup edupreneur mereka.
“Goals kami memang ingin startup yang sudah terbangun ini bisa jadi ujung tombak ketika lulus. Jadi anggapannya kita sudah punya pekerjaan dan penghasilan sendiri,” pungkas Faruq optimis.
Perjalanan Faruq mengajarkan satu hal kepada kita semua: seperti kutipan Franz Kafka yang dibacakannya di akhir pidato, “Paths are made by walking”. Jalan itu tercipta karena kita berani melangkah. Dan Faruq, telah melangkah sangat jauh melampaui batas ruang kelasnya.
Kisah Ahmad Zahidin Al Faruq menjadi bukti nyata bahwa batasan jurusan tidak pernah menjadi penghalang untuk melahirkan inovasi besar. Melalui kerja keras, kedisiplinan, dan keberanian keluar dari zona nyaman, Faruq kini siap melangkah ke dunia nyata tidak hanya sebagai seorang sarjana, tetapi sebagai seorang kreator yang membawa perubahan bagi masa depan pendidikan Indonesia. Langkah kecil yang dimulainya dari hobi, kini telah bertransformasi menjadi sebuah jalan karir yang menjanjikan, sekaligus menginspirasi generasi muda lainnya untuk terus berani melangkah dan menjadi pemenang di industri masa depan.
Pendaftaran Mahasiswa baru dapat melalui link berikut: https://pmb.unikama.ac.id/
info lebih lanjut : Follow akun Instagram FIP @fip.unikama atau Tiktok @fip_unikama

